Gaza yang gelap mencekam, Gaza yang merana
Nyawa seakan hanya bilangan angka – angka
Rintihan kesakitan itulah irama yang ada
Debu meriam mengepul menjadi panorama
Lontaran – lontaran mortir seakan menari di langit Gaza
Namun bukan tepuk tangan yang diraih olehnya
Melainkan isak tangis yang melangit di angkasa
Dan tubuh – tubuh lemah yang merintih dan meronta
Gaza yang luluh lantak
Tidak hanya oleh ledakan senjata
Tidak juga hanya oleh api membara
Dia luluh lantak oleh serakah manusia
Adakah nurani yang tersisa di sana?
Adakah yang mampu bangkitkan rasa?
Tidakkah nurani itu menghentak jiwa?
Tidakkah rasa itu menghantam di dada?
Siapa menjadi musuh siapa?
Bukankah perang adalah musuh setiap kehidupan yang ada?
Siapa menjadi kawan siapa?
Bukankah kedamaian adalah kawan setiap insan manusia?
Hai manusia, tengadahkan wajah ke angkasa
Tatap cipta dari Yang Maha Kuasa
Hidup adalah pemberian dari Nya
Sejatinya manusia adalah memuliakan pemberian Nya
Berkawan dengan kebencian adalah sia – sia
Tinggalkanlah kebencian itu jauh dari jiwa
Dekapan kemarahan menghanguskan pikiran
Lepaskanlah kemarahan itu sebelum hilang segalanya
Senyuman kedamaian tidak lagi sekedar harapan
Matahari kehidupan di Gaza akan kembali bersinar
Dan mawar putih kemanusiaan akan mekar mempesona
Berjuanglah untuk itu dan untuk kedamaian di Palestina
Senin, 11 Mei 2009
Minggu, 03 Mei 2009
Terbaik Untuknya
Tuhan berilah aku petunjuk
Aku bingung sekali Tuhan
Tuhan
Aku mencintainya
Aku ingin yang terbaik untuknya
Jika bukan aku yang terbaik untuknya
Ku ikhlas Tuhan
Berilah yang terbaik untuk dia yg kucintai
Walau itu berarti ku harus berlalu dari dirinya
Walau itu berarti ku harus pergi untuk selamanya
Akan kuterima semua itu
Demi yang terbaik untuknya
Terima kasih Tuhan
Kupasrahkan segalanya dalam kuasa Mu yang sempurna
Aku bingung sekali Tuhan
Tuhan
Aku mencintainya
Aku ingin yang terbaik untuknya
Jika bukan aku yang terbaik untuknya
Ku ikhlas Tuhan
Berilah yang terbaik untuk dia yg kucintai
Walau itu berarti ku harus berlalu dari dirinya
Walau itu berarti ku harus pergi untuk selamanya
Akan kuterima semua itu
Demi yang terbaik untuknya
Terima kasih Tuhan
Kupasrahkan segalanya dalam kuasa Mu yang sempurna
Tak Pernah Ingin Ku Akhiri
Awan hitam tutupi mentari
Membuat pagi ini begitu gelap
Dia seakan - akan mengerti diri ini
Saat hatiku merasa putus asa
Tersesak perasaan di hati
Mengenang dikau belahan jiwa
Tak pernah ingin ku akhiri
Tetap aku sayang dirimu adanya
Walau kau lukai hati ini
Tangisanku tangis tanpa suara
Kini hujan telah jatuh ke bumi
Hembusan angin dingin ikut serta
Terlena diri akan galau ini
Nafas tak lagi beraturan
Mungkinkah esok akan berseri lagi?
Hanya waktu yang mampu menjawab tanya
Membuat pagi ini begitu gelap
Dia seakan - akan mengerti diri ini
Saat hatiku merasa putus asa
Tersesak perasaan di hati
Mengenang dikau belahan jiwa
Tak pernah ingin ku akhiri
Tetap aku sayang dirimu adanya
Walau kau lukai hati ini
Tangisanku tangis tanpa suara
Kini hujan telah jatuh ke bumi
Hembusan angin dingin ikut serta
Terlena diri akan galau ini
Nafas tak lagi beraturan
Mungkinkah esok akan berseri lagi?
Hanya waktu yang mampu menjawab tanya
Cinta Yang Pakai Logika, Apakah Itu Cinta?
Cinta bisa muncul karena berbagai macam hal
Adakalanya cinta bisa lahir dari perasaaan merasa cocok
Kadang cinta lahir dari suatu kebanggaan
Ada juga yang muncul dari suatu kekaguman
Namun apakah cinta bisa muncul karena logika?
Bisakah lahir dari perhitungan untung dan rugi?
Ha ha ha, apakah bedanya dari sebuah perdagangan?
Apakah cinta yang lahir dari pertimbangan logika itu salah?
Bukankah seharusnya cinta itu tidak mengenal logika?
Bagaimana dengan hubungan cinta dan logika?
Apa salah bila cinta itu mengenal logika?
Apakah cinta itu salah saat tidak ada sinergi antara dirinya dengan impian?
Jika salah?
Apakah cinta itu ada yang salah?
Bukankah cinta itu cahaya keagungan Tuhan?
Hemmm, nampaknya sampai akhir jaman pun aku tidak akan pernah mengerti apa itu cinta?
Adakalanya cinta bisa lahir dari perasaaan merasa cocok
Kadang cinta lahir dari suatu kebanggaan
Ada juga yang muncul dari suatu kekaguman
Namun apakah cinta bisa muncul karena logika?
Bisakah lahir dari perhitungan untung dan rugi?
Ha ha ha, apakah bedanya dari sebuah perdagangan?
Apakah cinta yang lahir dari pertimbangan logika itu salah?
Bukankah seharusnya cinta itu tidak mengenal logika?
Bagaimana dengan hubungan cinta dan logika?
Apa salah bila cinta itu mengenal logika?
Apakah cinta itu salah saat tidak ada sinergi antara dirinya dengan impian?
Jika salah?
Apakah cinta itu ada yang salah?
Bukankah cinta itu cahaya keagungan Tuhan?
Hemmm, nampaknya sampai akhir jaman pun aku tidak akan pernah mengerti apa itu cinta?
Senin, 16 Februari 2009
Kesadaran
Dunia adalah kesemuan
Hidup adalah kefanaan
Tidak ada awal
Tidak ada akhir
Tidak ada satu
Tidak ada dua
Tidak pula ada yang berikutnya
Begitu pula berikutnya
Ada satu
Ada dua
Ada pula yang berikutnya
Begitu pula berikutnya
Tidak ada isi
Tidak ada kosong
Ada isi
Ada kosong
Tak mencari
Tak menemukan
Tak dapat
Tak kehilangan
Tak harap
Tak kecewa
Yang ada itu akan tiada
Yang tiada itu akan ada
Segala berjalan akan berhenti
Segala gerak akan tetap
Berjalan dan berhenti
Berbeda namun satu
Gerak dan tetap
Berlainan tapi satu
Tak ada apa-apa
Dimanakah rasa?
Tak ada sesuatu
Dimanakah pikir?
Semua hanya satu
Satu dalam kesadaran
Satu dalam keabadian
Kesadaran akan keabadian
Hidup adalah kefanaan
Tidak ada awal
Tidak ada akhir
Tidak ada satu
Tidak ada dua
Tidak pula ada yang berikutnya
Begitu pula berikutnya
Ada satu
Ada dua
Ada pula yang berikutnya
Begitu pula berikutnya
Tidak ada isi
Tidak ada kosong
Ada isi
Ada kosong
Tak mencari
Tak menemukan
Tak dapat
Tak kehilangan
Tak harap
Tak kecewa
Yang ada itu akan tiada
Yang tiada itu akan ada
Segala berjalan akan berhenti
Segala gerak akan tetap
Berjalan dan berhenti
Berbeda namun satu
Gerak dan tetap
Berlainan tapi satu
Tak ada apa-apa
Dimanakah rasa?
Tak ada sesuatu
Dimanakah pikir?
Semua hanya satu
Satu dalam kesadaran
Satu dalam keabadian
Kesadaran akan keabadian
Kamis, 12 Februari 2009
Ijinkan Aku Mencintaimu
Deru angin menyapa rasa pohon rindang
Sang awan pun bergerak – gerak tak tenang
Ketika rintik hujan mulai bernyanyi riang
Tak terasa kini kau telah menghilang
Membawa rindu terbalut kasih sayang
Akankah ku mampu menepis sang bayang – bayang
Entah mengapa bayang - bayangmu selalu kembali
Saat hatiku mulai mampu menghindar dan berlari
Menggali perasaan yang mungkin tak ku ingini
Kadang muncul rasa yang menyiksa nurani
Berjuta tanya menyerbu diri tentang rindu ini
Dapatkah beri aku jawab akan rasa di hati
Ku tak ingin kau mencintaiku, jika memang kau tak ingin
Hanya satu yang ku ingin
Tolong ijinkan lah aku untuk dapat mencintaimu sampai nafas ini berhenti
Hanya itu dan aku tak kan meminta yang lain lagi
Sang awan pun bergerak – gerak tak tenang
Ketika rintik hujan mulai bernyanyi riang
Tak terasa kini kau telah menghilang
Membawa rindu terbalut kasih sayang
Akankah ku mampu menepis sang bayang – bayang
Entah mengapa bayang - bayangmu selalu kembali
Saat hatiku mulai mampu menghindar dan berlari
Menggali perasaan yang mungkin tak ku ingini
Kadang muncul rasa yang menyiksa nurani
Berjuta tanya menyerbu diri tentang rindu ini
Dapatkah beri aku jawab akan rasa di hati
Ku tak ingin kau mencintaiku, jika memang kau tak ingin
Hanya satu yang ku ingin
Tolong ijinkan lah aku untuk dapat mencintaimu sampai nafas ini berhenti
Hanya itu dan aku tak kan meminta yang lain lagi
Kamis, 04 Desember 2008
Seandainya Saja Engkau Tahu
Tahukah engkau wahai detak jantungku
Sebab gelisah dan sesak di dada ini?
Tahukah engkau wahai aliran darahku
Sebab kerinduan yang bergelora di diri?
Tahukah engkau wahai desah nafasku
Mengapa dia selalu ada dalam setiap helaanmu?
Dia bukan Tuhan
Namun dia dapat merasuki ke sumsum tulangku
Apakah aku salah?
Apakah salah jika aku mencintainya?
Ku tak tahu itu sejak kapan
Ku hanya tahu bahwa kini ku sangat mencintainya
Telah kucoba berlari dan mengingkarinya
Apalah dayaku, ku hanya manusia biasa
Tak mampu kutolak saat rasa cinta itu menjajah hati
Apakah yang harus kulakukan kini?
Diam membisu dan mencoba mengingkarinya lagi?
Atau menerimanya dengan ketulusan?
Walau sering dia menyakitiku
Keduanya adalah pilihan yang akan menoreh luka di hati
Mungkinkah ada cinta darinya untukku?
Ku tak tahu apakah dia benci atau sayang padaku
Saat kutanya, dia hanya diam selaksa kata
Ahhh, sayang seandainya saja engkau tahu
Sebab gelisah dan sesak di dada ini?
Tahukah engkau wahai aliran darahku
Sebab kerinduan yang bergelora di diri?
Tahukah engkau wahai desah nafasku
Mengapa dia selalu ada dalam setiap helaanmu?
Dia bukan Tuhan
Namun dia dapat merasuki ke sumsum tulangku
Apakah aku salah?
Apakah salah jika aku mencintainya?
Ku tak tahu itu sejak kapan
Ku hanya tahu bahwa kini ku sangat mencintainya
Telah kucoba berlari dan mengingkarinya
Apalah dayaku, ku hanya manusia biasa
Tak mampu kutolak saat rasa cinta itu menjajah hati
Apakah yang harus kulakukan kini?
Diam membisu dan mencoba mengingkarinya lagi?
Atau menerimanya dengan ketulusan?
Walau sering dia menyakitiku
Keduanya adalah pilihan yang akan menoreh luka di hati
Mungkinkah ada cinta darinya untukku?
Ku tak tahu apakah dia benci atau sayang padaku
Saat kutanya, dia hanya diam selaksa kata
Ahhh, sayang seandainya saja engkau tahu
Selasa, 25 November 2008
Dekapan Kematian
Sungguh gelisah mencintaimu
Tanpa sadar ku tenggelam seketika
Terhanyut oleh perasaan cinta
Tanpa dapat ku pergi dan menjauh
Apakah ini kutukan atau cobaan?
Teriris saat tahu ini tak kan berhasil
Ku bukan pilihan hatimu
Andai dekapan kematian mampu membuatku tenang
Ku ikhlas berada dalam pelukannya
Walau itu berarti ku harus pergi tuk selamanya
Tanpa sadar ku tenggelam seketika
Terhanyut oleh perasaan cinta
Tanpa dapat ku pergi dan menjauh
Apakah ini kutukan atau cobaan?
Teriris saat tahu ini tak kan berhasil
Ku bukan pilihan hatimu
Andai dekapan kematian mampu membuatku tenang
Ku ikhlas berada dalam pelukannya
Walau itu berarti ku harus pergi tuk selamanya
Senin, 15 September 2008
Ku Mohon Jawaban MU
Tatapanmu mengguncang rasa rinduku
Senyumanmu membelenggu jantung kalbuku
Kerlingan matamu membuatku terpana tanpa kata
Tunduk malumu menghentak aku dengan suara jiwa
Salahkah langit ditutupi mendung?
Salahkah batu diam dan membisu?
Salahkah ranting patah tanpa suara?
Salahkah ombak di pantai menderu?
Oh' kau sang impian hidupku
Salahkah bila aku menyayangimu?
Aku hanya ingin sayang dan sayang, dan hanya sayang padamu
Aku tak peduli kau sayang atau tidak kepadaku
Yah, aku hanya ingin menyayangimu apa adanya
Salahkah diriku jika punya rasa sayang?
Salahkah aku Tuhan, jika aku menyayangi dirinya?
Ku mohon jawaban Mu, ku mohon Tuhan
Senyumanmu membelenggu jantung kalbuku
Kerlingan matamu membuatku terpana tanpa kata
Tunduk malumu menghentak aku dengan suara jiwa
Salahkah langit ditutupi mendung?
Salahkah batu diam dan membisu?
Salahkah ranting patah tanpa suara?
Salahkah ombak di pantai menderu?
Oh' kau sang impian hidupku
Salahkah bila aku menyayangimu?
Aku hanya ingin sayang dan sayang, dan hanya sayang padamu
Aku tak peduli kau sayang atau tidak kepadaku
Yah, aku hanya ingin menyayangimu apa adanya
Salahkah diriku jika punya rasa sayang?
Salahkah aku Tuhan, jika aku menyayangi dirinya?
Ku mohon jawaban Mu, ku mohon Tuhan
Kerinduanku Untukmu
Awan berarak seiring lagu syahdu
Tanda munculnya bunga yang ku rindu
Memeluk hati yang penuh menanti
Ingin diri mendekap kekasih hati
Pelangi jiwa melingkari sungai waktu
Dibawa terbang seiring hembusan bayu
Mengguncang diri yang tak ingin sendiri
Ingin diri katakan lagi rasa cinta ini
Sungai dewata diselimuti kabut biru
Saat tanah impian menjadi saksi bisu
Mencintai engkau dengan kerendahan hati
Ingin diri selalu bersamamu penghuni sanubari
Tanda munculnya bunga yang ku rindu
Memeluk hati yang penuh menanti
Ingin diri mendekap kekasih hati
Pelangi jiwa melingkari sungai waktu
Dibawa terbang seiring hembusan bayu
Mengguncang diri yang tak ingin sendiri
Ingin diri katakan lagi rasa cinta ini
Sungai dewata diselimuti kabut biru
Saat tanah impian menjadi saksi bisu
Mencintai engkau dengan kerendahan hati
Ingin diri selalu bersamamu penghuni sanubari
Senin, 08 September 2008
Syair Kehidupan
Tentang sebuah peperangan
Apakah untuk sebuah kemenangan?
Tentang sebuah pengkhianatan
Apakah untuk sebuah kejayaan?
Tentang sebuah kasih sayang
Apakah untuk sebuah penderitaan?
Bertanyalah pada sela – sela kobaran api!
Bertanyalah pada sela – sela hujan panah!
Apakah ini berarti?
Apakah ini bermakna?
Hanya Dia yang tahu!!!
Aku tak tahu dari mana aku datang
Aku tak tahu dari apa aku ada
Aku tak tahu untuk apa aku ada
Aku hanya tahu aku ada
Aku hanya tahu aku harus menjalani takdirku,
walau aku tak tahu untuk apa
Dan bila saatnya aku pergi,
biarlah aku pergi seiring semilir angin kecerahan,
tanpa perlu ada tangis kedukaan,
karena aku kembali kepada hakikatku dan menemukan pembebasan sejatiku
Apakah untuk sebuah kemenangan?
Tentang sebuah pengkhianatan
Apakah untuk sebuah kejayaan?
Tentang sebuah kasih sayang
Apakah untuk sebuah penderitaan?
Bertanyalah pada sela – sela kobaran api!
Bertanyalah pada sela – sela hujan panah!
Apakah ini berarti?
Apakah ini bermakna?
Hanya Dia yang tahu!!!
Aku tak tahu dari mana aku datang
Aku tak tahu dari apa aku ada
Aku tak tahu untuk apa aku ada
Aku hanya tahu aku ada
Aku hanya tahu aku harus menjalani takdirku,
walau aku tak tahu untuk apa
Dan bila saatnya aku pergi,
biarlah aku pergi seiring semilir angin kecerahan,
tanpa perlu ada tangis kedukaan,
karena aku kembali kepada hakikatku dan menemukan pembebasan sejatiku
Senin, 11 Agustus 2008
Menjelang Kematian
Kelelawar berterbangan melintasi kegelapan
Dia makhluk penguasa malam kelam mencekam
Awan hitam berbaris tak beraturan
Saat sepi memiliki kesunyian mendalam
Kala harapan berhenti di tengah jalan
Hati merindu menanti gelapnya malam
Ku terpaku merenungi sunyinya kehidupan
Mencari arti dari segala kegalauan yang mendalam
Kerinduan akan sebuah makna kematian
Arti yang tak kunjung mampu ku paham
Hanya mampu ku tafakur menjelang kematian
Dan berusaha menikmati hidup yang hampir padam
Dia makhluk penguasa malam kelam mencekam
Awan hitam berbaris tak beraturan
Saat sepi memiliki kesunyian mendalam
Kala harapan berhenti di tengah jalan
Hati merindu menanti gelapnya malam
Ku terpaku merenungi sunyinya kehidupan
Mencari arti dari segala kegalauan yang mendalam
Kerinduan akan sebuah makna kematian
Arti yang tak kunjung mampu ku paham
Hanya mampu ku tafakur menjelang kematian
Dan berusaha menikmati hidup yang hampir padam
Aku
Aku adalah pohon yang kekeringan di musim hujan
Aku adalah nada sumbang di dalam keserasian
Aku adalah kesunyian di tengah keramaian
Aku adalah wujud dari suatu kekosongan
Aku adalah perubahan dalam kepastian
Aku adalah riak di antara ketenangan
Akulah diriku yang tidak diriku
Aku adalah nada sumbang di dalam keserasian
Aku adalah kesunyian di tengah keramaian
Aku adalah wujud dari suatu kekosongan
Aku adalah perubahan dalam kepastian
Aku adalah riak di antara ketenangan
Akulah diriku yang tidak diriku
Sekelumit Tentang Cinta
Saat cinta bersemi orang begitu bahagia
Saat cinta kandas orang begitu menderita
Apakah memang ada cinta sejati di kefanaan dunia?
Apakah memang ada ketulusan cinta di tengah kepura - puraan?
Kadang ku termenung dalam keramaian
Kadang ku terpana dalam gelak tawa
Ku tak paham akan makna kata sejati di dalam cinta
Yang kutahu hanya lah bahwa aku ingin terus bersamanya
Kadang aku juga sadar bahwa tidak ada sepotong cintapun darinya
Namun seiring waktu berlalu, nanti ku yakin akan dapat menertawai kisah cinta yang kini ada
Saat dimana kisah cinta sedih ini hanyalah ilusi ku belaka
Saat cinta kandas orang begitu menderita
Apakah memang ada cinta sejati di kefanaan dunia?
Apakah memang ada ketulusan cinta di tengah kepura - puraan?
Kadang ku termenung dalam keramaian
Kadang ku terpana dalam gelak tawa
Ku tak paham akan makna kata sejati di dalam cinta
Yang kutahu hanya lah bahwa aku ingin terus bersamanya
Kadang aku juga sadar bahwa tidak ada sepotong cintapun darinya
Namun seiring waktu berlalu, nanti ku yakin akan dapat menertawai kisah cinta yang kini ada
Saat dimana kisah cinta sedih ini hanyalah ilusi ku belaka
Ku Coba
Aku coba untuk mengiringi langkahmu
Dan terus berlari mengejar bayangmu
Bayang yang selalu datang di pikiranku
Membuat tak mampu berpikir selain tentangmu
Aku coba untuk sampaikan padamu isi hati ini
Lewat bintang yang menemani tidurmu di malam sepi
Agar kita dapat berjumpa di indahnya ruang mimpi
Membuat khayalan tak lagi hanya sekedar ilusi
Seperti bintang - bintang menghiasi sang malam
Aku ingin menghiasi hidupmu dengan rasa cinta
Seperti semilir angin senja menyertai matahari tenggelam
Aku ingin menyertaimu dalam segala suka dan duka
Jika kau tak inginkan diriku sebagai kekasihmu
Biarlah ku hanya menjadi teman di saat dukamu
Menjadi tempat melepas kesedihan di saat laramu
Menemanimu walau pun kau tak sadar akan hadirku
Dan terus berlari mengejar bayangmu
Bayang yang selalu datang di pikiranku
Membuat tak mampu berpikir selain tentangmu
Aku coba untuk sampaikan padamu isi hati ini
Lewat bintang yang menemani tidurmu di malam sepi
Agar kita dapat berjumpa di indahnya ruang mimpi
Membuat khayalan tak lagi hanya sekedar ilusi
Seperti bintang - bintang menghiasi sang malam
Aku ingin menghiasi hidupmu dengan rasa cinta
Seperti semilir angin senja menyertai matahari tenggelam
Aku ingin menyertaimu dalam segala suka dan duka
Jika kau tak inginkan diriku sebagai kekasihmu
Biarlah ku hanya menjadi teman di saat dukamu
Menjadi tempat melepas kesedihan di saat laramu
Menemanimu walau pun kau tak sadar akan hadirku
Sang Jelita
Berlatarkan lampu – lampu jalanan
Duduk terpaku sesosok wanita jelita
Membuat buyar lamunan pejalan
Karena melintasi suatu bayang keindahan
Menapaki senja dengan kegembiraan
Sesosok lembut tersenyum mengusik jiwa
Tatap mata yang menggoda rasa tanya
Seakan ingin menghapus segala kegalauan
Ingin kutanya kepada sang jelita
Apakah gerangan yang ada dalam lamunan?
Sebuah perenungan tentang dunia
Ataukah hanya menikmati kesendirian
Wajah sang jelita bersemu bak bidadari
Saat dia tertunduk malu kala kutanya
“Aku tak tahu”, katanya lembut mengusik hati
“Mungkin juga kedua – duanya”, tambah sang jelita
Oh’ Tuhan Sang Pencipta Keindahan
Apakah ku dapat terus memandangnya?
Wajah jelita yang tak kan ku lupakan
Senyum sendu yang mengoyak iman
Duduk terpaku sesosok wanita jelita
Membuat buyar lamunan pejalan
Karena melintasi suatu bayang keindahan
Menapaki senja dengan kegembiraan
Sesosok lembut tersenyum mengusik jiwa
Tatap mata yang menggoda rasa tanya
Seakan ingin menghapus segala kegalauan
Ingin kutanya kepada sang jelita
Apakah gerangan yang ada dalam lamunan?
Sebuah perenungan tentang dunia
Ataukah hanya menikmati kesendirian
Wajah sang jelita bersemu bak bidadari
Saat dia tertunduk malu kala kutanya
“Aku tak tahu”, katanya lembut mengusik hati
“Mungkin juga kedua – duanya”, tambah sang jelita
Oh’ Tuhan Sang Pencipta Keindahan
Apakah ku dapat terus memandangnya?
Wajah jelita yang tak kan ku lupakan
Senyum sendu yang mengoyak iman
Kamu & Saya
Kebersamaan membuat ku tak sekedar suka
Aku akhirnya menyayangimu
Tidak ada lagi kata kamu dan saya
Tiada lagi ungkapan engkau dan aku
Yang ada hanyalah kata kita
Kita menjadi satu dan hanya satu
Banyak kita lewati suka dan duka
Namun bila tiba akhir masa ku
Ku tak ingin ada kesedihan di mata
Walau tetes air mata membanjiri kalbu
Biarkan ku pergi bila memang sudah waktu ku
Biarlah kata kamu dan saya menjadi ada
Ku hanya bisa berdoa bagi kebahagiaanmu
Aku akhirnya menyayangimu
Tidak ada lagi kata kamu dan saya
Tiada lagi ungkapan engkau dan aku
Yang ada hanyalah kata kita
Kita menjadi satu dan hanya satu
Banyak kita lewati suka dan duka
Namun bila tiba akhir masa ku
Ku tak ingin ada kesedihan di mata
Walau tetes air mata membanjiri kalbu
Biarkan ku pergi bila memang sudah waktu ku
Biarlah kata kamu dan saya menjadi ada
Ku hanya bisa berdoa bagi kebahagiaanmu
Senja & Gadis
Semburat wajah senja kemerahan
Daun bambu hijau jatuh berguguran
Garis langit mulai merona mempesona
Bumi pelahan ditutupi selimut temaram
Pekik burung walet menambah rasa kegalauan
Suara gemuruh ombak ikut melantunkan kesunyian
Seorang gadis duduk sendiri di tepi pantai
Beralaskan batu – batu kokoh yang berhimpitan
Tatapan matanya sendu menambah dingin suasana
Seakan dia ingin mengungkap misteri semesta rasa
Wajah indahnya menyiratkan kegundahan yang dalam
Tidak tahu apa yang membuat gundah wajahnya yang indah
Daun bambu hijau jatuh berguguran
Garis langit mulai merona mempesona
Bumi pelahan ditutupi selimut temaram
Pekik burung walet menambah rasa kegalauan
Suara gemuruh ombak ikut melantunkan kesunyian
Seorang gadis duduk sendiri di tepi pantai
Beralaskan batu – batu kokoh yang berhimpitan
Tatapan matanya sendu menambah dingin suasana
Seakan dia ingin mengungkap misteri semesta rasa
Wajah indahnya menyiratkan kegundahan yang dalam
Tidak tahu apa yang membuat gundah wajahnya yang indah
. . . , entahlah
Ha ha ha ha, hidup adalah permainan belaka
Dan cinta adalah bagian dari permainan itu
Bahkan cinta adalah permainan yang terhebat
Mungkin Dia lagi ingin lucu – lucuan saja
Atau juga ingin punya suatu mainan yang seru
Atau juga hanya sekedar iseng saja, entahlah
Ada rasa bahagia tanpa jelas sumbernya
Ada rasa sedih tanpa jelas asal yang usul
Ada campuran keduanya, yang tidak jelas logikanya
Ha ha ha ha, dunia ini sungguh aneh
Atau juga pantas disebut lucu bin amit imut
Atau juga tidak terumuskan, entahlah
Ada yang hari ini katakan aku cinta
Ehhhh, besoknya aku benci dirimu
Besoknya lagi, aku ingin kau tiada
Wahh wahh, pusing sungguh ini kelapa
Ingin hindari cinta, ehh malah terjerumus
Walau tahu ini hanya cerita duka tanpa batas
Mungkin aku juga udah masuk dalam barisan
Yahh, barisan manusia bingung bin linglung
Ha ha ha ha, ingin tertawa malah mewekan
Mungkin juga ku tak ingin lepas
Bodoh dong aku
Mungkin juga iya
Entahlah
Bingung
Sakit jiwa lama – kelamaan
Mungkin juga udah
Dan cinta adalah bagian dari permainan itu
Bahkan cinta adalah permainan yang terhebat
Mungkin Dia lagi ingin lucu – lucuan saja
Atau juga ingin punya suatu mainan yang seru
Atau juga hanya sekedar iseng saja, entahlah
Ada rasa bahagia tanpa jelas sumbernya
Ada rasa sedih tanpa jelas asal yang usul
Ada campuran keduanya, yang tidak jelas logikanya
Ha ha ha ha, dunia ini sungguh aneh
Atau juga pantas disebut lucu bin amit imut
Atau juga tidak terumuskan, entahlah
Ada yang hari ini katakan aku cinta
Ehhhh, besoknya aku benci dirimu
Besoknya lagi, aku ingin kau tiada
Wahh wahh, pusing sungguh ini kelapa
Ingin hindari cinta, ehh malah terjerumus
Walau tahu ini hanya cerita duka tanpa batas
Mungkin aku juga udah masuk dalam barisan
Yahh, barisan manusia bingung bin linglung
Ha ha ha ha, ingin tertawa malah mewekan
Mungkin juga ku tak ingin lepas
Bodoh dong aku
Mungkin juga iya
Entahlah
Bingung
Sakit jiwa lama – kelamaan
Mungkin juga udah
Langganan:
Postingan (Atom)